Di bawah temaram sinar bulan sabit, aku pun semakin menyadari bahwa aku kehilanganmu…
Di bawah jendelamu aku berdiri. Berharap engkau mau ‘tuk membukanya. Atau setidaknya mendengarkanmu menyanyikan lagu untukmu… (the rain)
Lagu itu samar menemaniku menulis posting ini. Entah kenapa beberapa minggu ini aku jadi cengeng. Bahkan hal paling memalukan sekalipun terjadi; aku menangis di depan dia, perempuan asing ini. Aku yang biasanya angkuh terhadap hal apa pun, bisa jadi banci seperti itu. Aku tak tahu kenapa bisa jadi seperti ini. Sisi lain diriku yang biasa kuajak berdialog pun tak menemukan jawabannya.
Ya. Aku memang sering berdialog. Dialog antara aku dan ‘aku’, begitu ‘kami’ menamainya. Apa saja selalu ‘kami’ bahas berdua. Kalian boleh menganggap aku gila, tapi itu kenyataannya, dan aku tak peduli. Dan kali ini pun ‘aku’ yang biasanya menenangkan diriku saat aku di luar kendali, malah jadi ikut menangis demi mendengar ceritaku. Biasanya ‘aku’ menamparku ketika aku menangis. Begitu pula sebaliknya. Aku menendang’ku’ sampai ‘aku’ jatuh terguling-guling, lau mengolok-olok ‘aku’ dan mengatai dengan omongan yang tak pantas.
“Hei! ngapain kamu nangis? dasar bencong! pengecut!”
begitulah sampai akhirnya aku bisa mengeringkan mataku karena terbakar makian’ku’
Kali ini ‘kami’ sama-sama menyerah. Tak dapat saling menolong. Tak bisa ikut menyelesaikan permasalahan satu sama lain. Akhirnya aku mengingkari diriku sendiri. Aku sering mengeluh pada orang lain (orang yang kupercaya tentunya). Sifat introvert yang kusandang bertahun-tahun hangus begitu saja. Tak cuma itu, aku sekarang juga tak punya malu memuat apa-apa yang kurasakan di media maya ini.
Aku cuma berharap kali ini ‘aku’ bisa kembali lagi seperti semula. Hingga bisa menolongku bangun dari ketakberdayaanku ini. Aku rindu ‘aku’ memapahku ketika aku tak bisa berjalan karena jatuh dari tempat tinggi.
Sesaat setelah ‘aku’ menasehatiku, “jangan terbang tinggi-tinggi, nanti kalau jatuh sakit!”
(ds)
Filed under: feeling